Mikrohidro adalah istilah yang digunakan untuk instalasi pembangkit listrik yang menggunakan air dengan kapasitas daya yang dihasilkannya berkisar mulai beberapa ratus watt sampai 100 kW. Sedangkan bila daya yang dihasilkan berkisar antara 100 kW sampai 1 MW instalasi tersebut dapat digolongkan sebagai minihidro. Parameter penting dalam pengembangan pembangkit listrik yang memanfaatkan energi air adalah kapasitas aliran air (debit) dan tinggi jatuh (head) dari tempat yang akan dikembangkan menjadi PLTMH.
Dengan banyaknya anak sungai di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Waduk PLTA Riam Kanan yang mengalir masuk waduk maka daerah tersebut mempunyai beberapa tempat potensial untuk dikembangkan menjadi pembangkit listrik mikrohidro ataupun pembangkit listrik minihidro. Tahap awal pengembangan pembangkit listrik mikro/minihidro ini dimulai dengan mengadakan survei lapangan potensi Sungai Paau di Desa Rantau Balai Kecamatan Aranio Kabupaten Banjar pada awal September 2007 dan kemudian dilanjutkan survei serupa kedua di lokasi sungai Tuyup di Desa Belangian pada akhir September 2007.

Secara administratif Waduk Riam Kanan terletak di Kecamatan Aranio Kabupaten Banjar Provinsi Kalimantan Selatan. Terdapat 11 desa di Daerah Aliran Sungai (DAS) Waduk Riam Kanan, yaitu Desa Rantau Balai, Rantau Bujur, Kalaan, Bunglai, Belangian, Artain, Puliin, Liang Toman, Sungai Luar, Tiwingan Lama dan Tiwingan Baru. Kesebelas desa ini terpisah satu sama lain dan hanya dihubungkan melalui jalan air/transportasi air. Baru sedikit desa yang sudah menikmati aliran listrik dari PLN, seperti Desa Tiwingan Lama dan Sungai Luar. Beberapa diantaranya−seperti Desa Bunglai, Rantau Bujur dan Rantau Balai−mengoperasikan mesin diesel genset atau PLTD mini yang hanya beroperasi beberapa jam pada malam hari. Sebagian besar penduduk di wilayah ini belum menikmati listrik secara memadai. Untuk itu perlu diusahakan sumber alternatif penyediaan energi listrik yang mudah, ekonomis, terbarukan/lestari dan dekat dengan masyarakat setempat. Salah satu diantaranya yang potensial adalah pembangkit listrik mikro/minihidro.

Untuk mengetahui potensi energi listrik mikrohidro maka perlu dilakukan survei lapangan di lokasi-lokasi yang diperkirakan potensial. Parameter terpenting yang perlu diteliti adalah debit aliran sungai dan tinggi jatuh/head nya. Pengukuran debit aliran sungai dilakukan dengan menggunakan alat Current Meter Counter dengan memakai Kincir No. 4-92.02. Pengukuran dilakukan di sepanjang penampang melintang sungai dengan interval pengukuran setiap 1,0 meter lebar sungai.
Demi keakuratan data pengukuran maka pengukuran debit aliran ini dilakukan di dua lokasi yang berlainan.
Pengukuran beda ketinggian/head antara hulu sungai dengan calon lokasi instalasi pembangkit dilakukan dengan menggunakan Theodolite TOPCON tipe TL-20 DP. Dengan alat ini dapat pula diukur jarak antar titik pengukuran tanpa menggunakan roll meter lagi. Untuk beberapa lokasi pengukuran yang terkendala kondisi geografis yang sulit maka pengukuran jarak dilakukan dengan menggunakan Global Positioning System (GPS).
Pengukuran posisi koordinat lokasi dilakukan dengan menggunakan GPS. Dengan menggunakan bantuan perangkat lunak Google Earth maka arah mata angin pada denah jalur pengukuran dapat ditentukan
Sampai saat ini sudah dua kali dilakukan survei lapangan, yaitu Sungai Paau di Desa Rantau Balai dan Sungai Tuyup di Desa Belangian. Dengan menggunakan GPS maka dapat diukur titik koordinat:
• Desa Belangian:      South 3°35′48.70″
East 115° 3′38.00″
• Desa Rantau Balai:  South 03°25′57.6″
East 115°09′31.6″

Untuk meningkatkan daya listrik yang dihasilkan dapat digunakan tiga cara, yaitu:
• Meningkatkan debit aliran air
• Meningkatkan head
• Meningkatkan efisiensi sistem pembangkit

Dari ketiga cara untuk meningkatkan daya output di atas, cara kedua dirasa paling memungkinkan untuk diterapkan di lapangan. Beberapa cara dapat digunakan untuk meningkatkan beda ketinggian/head ini, diantaranya adalah dengan cara membendung hulu sungai dengan membangun suatu dam kecil. Dengan cara ini head total sistem instalasi pembangkit dapat ditingkatkan. Seberapa besar head dapat ditingkatkan tergantung dari besar dan tingginya dam yang dibangun. Penghitungan ukuran dam yang dapat dibangun merupakan hal di luar jangkauan dalam studi kelayakan kali ini. Diperlukan survei lapangan/studi kelayakan lebih lanjut untuk dapat mengetahuinya. Di sini hanya diajukan skema peningkatan head dan daya output yang dapat dihasilkan. Sebagai contoh apabila head sistem dinaikkan menjadi dua kalinya maka daya listrik yang dihasilkan menjadi dua kali lipat pula, begitu seterusnya.

Kesimpulan dan Rekomendasi:
1. Dari hasil survei dilapangan diperoleh debit aliran air Sungai Paau sebesar 6,038 m3/s dan beda ketinggian/head sebesar 3,0 m sehingga daya listrik yang dapat dihasilkan dari aliran air sungai ini sebesar 88,85 kW
2. Sedangkan untuk Sungai Tuyup diperoleh debit aliran sungai sebesar 2,757 m3/s dan beda ketinggian/head sebesar 3,62 m sehingga daya listrik yang dapat dihasilkan dari aliran air sungai ini sebesar 48,95 kW
3. Debit aliran sungai yang terukur adalah debit aliran sungai pada permulaan musim penghujan, pada musim penghujan tentunya debiat aliran sesungguhnya lelih besar lagi
4. Daya listrik yang dihasilkan dapat ditingkatkan dengan cara meningkatkan head sistem. Hal ini dapat dilakukan dengan cara membangun dam kecil di bagian hulu. Sebagai contoh bila kita dapat meningkatkan head menjadi 10,0 m maka daya listrik yang dihasilkan menjadi 296,16 kW untuk Sungai Paau dan 135,23 kW untuk Sungai Tuyup
5. Perlu dilakukan survei menyeluruh lebih mendalam untuk dapat menyusun studi kelayakan pembangunan pembangkit listrik tenaga mikro/minihidro
Untuk perhitungan selengkapnya silakan kontak admin

0 Responses to “Mikrohidro di Kalsel”


  1. No Comments

Leave a Reply